Penurunan stok ikan di ekosistem terumbu karang karimunjawa

Oleh : Fakhrizal Setiawan

Terumbu karang karimunjawa

Sudah dua tahun semenjak survey wcs di karimunjawa tahun 2007, kembali dilakukan lagi monitoring yang sama di 43 site penyelaman. Data yang dikumpulkan meliputi data karang, ikan karang dan biota bentik yang memiliki potensi ekonomi serta ekologi. Dalam survey kali ini ada sedikit kejanggalan yang ditemukan yaitu ikan yang dilihat selama survey dibeberapa titik penyelaman jumlah maupun jenisnya menurun. Ini yang tampak secara kasat mata meski kita blum tahu secara resmi karena data sedang dilakukan proses pengolahan. Yang paling tampak jelas adalah penurunan stok ikan ekor kuning, dimana yang dahulu dapat dijumpai dalam jumlah banyak namun sekarang sangat sedikit terlihat dihabitatnya.

Menurut nelayan yang saat itu dikonfirmasi mengatakan bagaimana stok ikan tidak habis, setiap hari penangkapan terus berlangsung bahkan di zona inti sekalipun.Taman nasional karimunjawa semenjak tahun 2003 telah membagi beberapa wilayah lautnya kedalam beberapa zona yaitu pertama zona inti daerah ini tertutup bagi kegiatan penangkapan. Zona inti hanya bisa dimasuki untuk kegiatan penelitian dana atsa seizing balai taman nasional, slebihnya itu tertutup untuk kegiatan lain termasuk pariwisata. Kedua zona perlindungan, zona ini merupakan zona perlindungan baik untuk biotanya maupun habitatnya dalam zona ini dapat dimasuki utnuk kegiatan perlindungan dan wisata pendidikan yang sangat terbatas.

More

Advertisements

Kesadaran Masyarakat Tentang Manfaat DPL (Daerah Perlindungan Laut) di Sulawesi Utara Masih Tetap Terjaga


Oleh: Fakhrizal Setiawan

DPL Desa Blongko

DPL Desa Blongko

Meski sudah 5 tahun proyek Pesisir berakhir namun masyarakat binaan di lokasi Bentenan, Tumbak dan Talise masih menerapkan pola-pola yang sama dalam menjaga Daerah Perlindungan Lautnya masing-masing.

Proyek pesisir atau CRMP (Costal Resources Management Project) merupakan proyek kerjasama antara USAID dengan pemerintah Indonesia yang berlangsung semenjak tahun 1997 dan berakhir ditahun 2001. Lokasi proyek ini tersebar di tiga propinsi yaitu Sulawesi Utara, Lampung dan Kalimantan Timur. Di Sulawesi Utara sendiri proyek ini melakukan kegiatan di tiga lokasi yaitu di Desa Bentenan-Tumbak, Blongko dan Talise. Namun setelah pemekaran kabupaten yang dahulunya Minahasa menjadi 4 kabupaten yaitu Kab.Minahasa Induk, Kab. Minahasa Selatan, Kab. Minahasa Tenggara dan Kab. Minahasa Utara, lokasi Desa turut terpecah pula.

Desa Talise sekarang berada di Kab. Minahasa Utara, Desa Blongko di Kab. Minahasa Selatan dan  Desa bentenan dan tumbak di Minahasa tenggara. Tiap-tiap desa pun sekarang mengalami pemekaran yaitu di Desa Bentenan-Tumbak menjadi  Desa Bentenan, Bentenan Indah dan Desa Tumbak serta Desa Talise menjadi tiga desa yaitu Desa Tambun, Desa Talise dan Desa Kinobutan.

More